Kemungkinanfatal terhadap jiwa manusia apabila terjadi hubungan singkat pada salah satu peralatan; Manfaat pemasangan grounding juga sebagai upaya menetralisasi tegangan listrik berlebih pada perangkat elektronik. Seperti komputer, tv, kulkas dan lain sebagainya. Grounding listrik yang baik adalah memiliki resisten kurang dari 2 ohm.
Sistemgrounding ini bekerja dengan cara meniadakan beda potensial sehingga ketika terjadi kebocoran tegangan listrik maupun arus listrik akan langsung dibuang ke tanah/ bumi. Dalam ilmu Elektronika, kata Ground mempunyai arti titik referensi umum/ tegangan potensial sama dengan tegangan nol. Sistem grounding ini bersifat relatif karena titik pusat dalam sirkuit yang digunakan untuk mereferensi semua tegangan dalam rangkaian dapat anda tempatkan dimana saja.
Thecalculated error value of prepaid kWh meter at 220V voltage without using grounding is 3.99%, using grounding is 1.31% and using grounding connected to neutral is 35.128%. The use of grounding on prepaid kWh meters greatly affects consumers, especially the safety of electrical installation leakage currents.
4 Imbas secara langsung pengadaan grounding system pada instalasi juga mengurangi suhu kabel listrik itu sendiri, sehingga dapat mengurangi resiko Hubungan Arus Pendek antar kabel pada instalasi. Demikian sedikit penjelasan dan gambaran mengenai pentingnya grounding pada instalasi listrik kita.
Groundingadalah suatu jalur langsung dari arus listrik menuju bumi. Atau koneksi fisik langsung ke bumi. Dipasangnya koneksi ground pada instalasi listrik adalah sebagai pencegahan terjadinya kontak antara makhluk hidup dengan tegangan listrik berbahaya yang terekspos akibat terjadi kegagalan isolasi. Grounding pada peralatan listrik
DGzF.
Sekitar pertengahan tahun 2014, meteran pascabayar lama 900VA rumah saya yang berlokasi di Jakarta, diganti gratis dengan meteran pascabayar baru. Saat penggantian dikerjakan, saya melihat kawat arde dipotong oleh petugas. Menurut si petugas, kini kawat arde sudah tidak dibutuhkan lagi. Karena, fungsinya bisa digabungkan dengan kawat netral. “Listrik sekarang sudah canggih, Pak. Beda dengan dulu yang masih pake kawat arde.”, begitu penjelasan si petugas. Saya hanya bisa meng-iya-kan sambil mengangguk-anggukan kepala. Tidak ada yang bisa saya kerjakan untuk mencegahnya, karena yang menyatakan hal itu adalah seorang teknisi listrik resmi dari PLN. Namun, seiring berjalannya waktu, memperlihatkan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuh bisa berlaku sama dengan kawat Arde yang dikondisikan tetap ada dan terhubung meteran kWh PLN. Lampu Indikator Meteran menyala Saya menggunakan dua unit stabilizer siap pakai berkapasitas 500VA dan satu unit 1000VA. Setiap stabilizer mewakili satu perangkat elektronik, yaitu kulkas, televisi dan pompa air tanpa AC, hanya kipas BBT. Kapasitas listrik terpasang yang hanya 900VA, menjadi pertimbangan utama untuk saya tidak memasang stabilizer berkapasitas besar. Hanya mengingatkan kembali pada anda, bahwa tulisan mengenai listrik di artikel ini bercerita tentang permasalahan yang terjadi pada rumah saya di Jakarta. Bukan tentang rumah saya di Bogor 1300VA yang menggunakan dua unit stabilizer tanpa kabel 3000VA untuk mengakomodir seluruh jaringan kabel listrik di rumah. Kembali ke cerita meteran lama yang diganti baru dengan kondisi tanpa dilalui kawat Arde… Meteran pascabayar kWh PLN yang baru dipasang, memiliki model berbeda dengan yang lama. Disitu, terdapat 3 lampu led yang jika menyala menandakan meteran sedang mengerjakan aktivitas tertentu Lampu led pertama berwarna hijau, akan menyala dan terus menyala selama masih menerima aliran listrik. Mirip seperti lampu led siaga pada televisi yang baru akan menyala dan terus menyala setelah steker-nya dicolokkan ke stop kontak. Lampu led pada televisi hanya akan padam saat setelah steker dicabut dari stop kontak. Demikian juga lampu led hijau di meteran yang baru akan padam saat terjadi pemadaman listrik oleh PLN. Dan akan terus menyala selama tidak terjadi pemadaman listrik. Lampu led kedua berwarna kuning, jika menyala menandakan adanya masalah dengan jaringan kabel listrik di rumah pelanggan kita. Lampu led kuning ini baru akan mati setelah masalah dibenahi. Aktivitas nyala lampu kuning tersebut tidak selalu pasti kapan waktunya. Bergerak secara dinamis dengan frekuensi tidak beraturan, karena mengikuti masalah yang sedang berlangsung pada jaringan kabel dalam rumah. Lampu kuning ini terkenal dengan sebutan lampu indikator. Lampu led ketiga berwarna merah, akan menyala berkedip secara berkesinambungan jika MCB di meteran dalam posisi ON dan ada pemakaian listrik di dalam rumah. Beberapa kali kedipan dari lampu led merah ini, pasti akan menambah angka pemakaian listrik yang tertera di meteran. Beberapa bulan kemudian setelah penggantian meteran, saya mengalami beberapa kali sengatan listrik pada permukaan kulkas dan laptop. Dari situ, saya mulai meragukan pernyataan dari si petugas pengganti meteran mengenai tidak dibutuhkan lagi kawat Arde dipasang di meteran. Jika kawat Netral juga bisa sekaligus berfungsi sebagai kawat Arde, semestinya saya tidak akan mengalami sengatan listrik saat menyentuh permukaan kulkas atau laptop. Selain masalah menimbulkan sengatan listrik, lampu indikator warna kuning pada meteran juga sering menyala. Tidak selalu menyala, namun sering. Kecurigaan saya menjadi semakin kuat bahwa semua itu terjadi akibat dipotongnya kawat Arde di meteran. Namun begitu, tidak ada yang bisa saya kerjakan untuk memperbaiki / menyambung kembali kawat Arde yang sebelumnya sudah dipotong. Jika memang hendak dikerjakan, harus dengan membuka cover meteran PLN terlebih dulu, baru kemudian kawat Arde bisa disematkan sesuai tempatnya di meteran. Persoalannya, tindakan seperti itu, hanya diperkenankan untuk dikerjakan oleh petugas PLN saja. Saya pun menggunakan alternatif dengan cara membuat grounding pengganti berupa paku di dinding yang ditancapkan berdekatan letaknya dengan boks MCB. Kemudian, panel Arde di boks MCB saya pasang kawat baru yang ujungnya terhubung pada paku tersebut dengan cara dililitkan. Sejak saat itu, tidak ada lagi sengatan listrik dari permukaan kulkas dan laptop. Namun, cara itu tidak menjadikan nyala lampu indikator di meteran padam. Saat itu, saya menduga dikarenakan ada masalah di jaringan kabel listrik dalam rumah yang lebih dari sekedar menghasilkan sengatan listrik semata. Atau…, bisa jadi juga memang sekedar korsleting ringan biasa. Hanya saja mengatasinya harus menggunakan model grounding yang berbeda. Karena, cara menancapkan paku di dinding memang tidak sepenuhnya memadai untuk bisa diandalkan sebagaimana grounding seutuhnya. Sehingga, meskipun mampu mengatasi sengatan listrik, masih terdapat kemungkinan model grounding yang demikian tidak bisa mengatasi korsleting yang terdeteksi oleh meteran. Setelah melakukan pemeriksaan ulang jaringan kabel listrik secara keseluruhan, saya tidak menemukan ada kesalahan atau sesuatu yang bisa menyebabkan menjadi satu masalah pada jaringan instalasi listrik yang saat itu terpasang. Lalu apa yang menyebabkan lampu indikator di meteran masih tetap menyala? Untuk setelah beberapa kali menganalisa dan memastikan bahwa memang tidak ada kesalahan pada pemasangan instalasi listrik yang telah dikerjakan, saya menghadapi jalan buntu. Saya tidak menemukan adanya titik terang yang bisa menjadi jalan keluar sebagai solusi dari masalah nyala lampu indikator di meteran tersebut. Melihat kenyataan seperti itu, saya putuskan untuk mengabaikannya, walaupun dalam hati terasa amat menjengkelkan melihat lampu indikator yang mati-menyala-berkedip berkesinambungan setiap kali saya berjalan melewati meteran. Stabilizer Memadamkan Lampu Indikator Lewat waktu satu tahun kemudian, beberapa hari setelah memasuki tahun baru 2016, muncul masalah baru. Jarum penunjuk voltase salah satu stabilizer siap pakai berkapasitas 500VA yang terpasang mendadak tidak berfungsi. Stabilizer masih bisa menyala, tetapi jarum penunjuk voltase tetap mengarah pada angka nol 0. Hal itu terjadi setelah listrik yang sebelumnya padam kembali menyala. Seberapa parah kerusakan yang terjadi pada stabilizer 500VA itu, saya tidak tahu. Namun, peristiwa tersebut mengingatkan saya dengan kejadian yang sama persis pada rumah di Bogor saat stabilizer 3000VA belum terpasang. Mungkinkah stabilizer tanpa kabel 3000VA juga harus dipasang untuk rumah di Jakarta? Tidakkah akan menjadi mubazir memasang stabilizer dengan besaran kapasitas berbeda jauh dibanding listrik terpasang 900VA ? Saya teringat berita di media cetak dan elektronik yang menyatakan bahwa pada saatnya nanti, pemerintah akan “memaksa” menaikkan daya golongan pelanggan R1-900VA menjadi R1-1300VA. Jika memang pada akhirnya akan terjadi seperti itu, saya pikir, tidak ada salahnya untuk mulai mengerjakan pemasangan stabilizer tanpa kabel 3000VA lebih awal. Teknik yang digunakan sama dengan memasang stabilizer 3000VA di rumah Bogor, namun kali ini hanya satu unit stabilizer tanpa kabel 3000VA saja yang dipasang. Dan, panel kawat Arde stabilizer saya biarkan tidak terpakai alias tidak terhubung dengan grounding. Pertimbangan saya untuk tidak memasang kawat Arde pada stabilizer, karena listrik yang masuk ke stabilizer adalah langsung berasal dari meteran PLN. Hanya dua titik, yaitu meteran dan stabilizer saja. Tidak ada sambungan lain yang memotong di antara jalur kabel tersebut. Jadi, tidak ada kemungkinan yang bisa menyebabkan timbulnya korsleting disitu. Disamping itu, saya masih mengingat pernyataan petugas PLN pengganti meteran, dimana kini kawat Netral telah memiliki dwifungsi sebagai kawat Arde. Walaupun realitas yang telah saya alami tidak memperlihatkan pernyataan tersebut sepenuhnya benar, mungkin saja itu bisa berlaku hanya pada jalur kabel dari meteran ke boks MCB. Saya putuskan untuk mencoba mengetahui lebih jauh lagi mengenai kebenaran kemungkinan itu dengan tanpa memasang kawat Arde pada stabilizer. Setelah stabilizer dipasang, perubahan langsung terlihat dengan padamnya lampu indikator di meteran… Hmmm… sebuah kejutan menyenangkan yang tidak pernah saya harapkan. Ini merupakan hal yang cukup menarik! Karena sebelumnya, saya memasang stabilizer berkapasitas kecil secara sporadis untuk mendukung perangkat elektronik tertentu, tidak membuat nyala lampu indikator meteran padam. Namun, dengan memasang stabilizer tanpa kabel 3000VA tepat setelah keluaran meteran, lampu indikator meteran langsung padam. Walau demikian, saya masih tetap belum memahami letak permasalahan yang sebenarnya penyebab pemicu lampu indikator di meteran menjadi menyala. Tetapi, biarlah… saya sudah cukup terhibur melihat kondisi lampu indikator meteran yang akhirnya padam. Setelah lewat 5 lima hari kemudian, lampu indikator di meteran benar-benar padam. Mungkin tidak sepenuhnya padam selama 24 jam dalam sehari… karena saya memang tidak menunggui-nya terus menerus selama 24 jam sehari. Tetapi, setidaknya, kondisi seperti itu yang saya temukan setiap kali melewati meteran. Kondisi yang lebih baik juga terlihat pada kinerja yang lebih stabil dari perangkat elektronik / listrik lainnya di dalam rumah, seperti kulkas dan pompa air. Saya pun menyimpulkan bahwa semua urusan mengenai listrik di rumah Jakarta telah berhasil diselesaikan dengan setelah dipasangi stabilizer tanpa kabel 3000VA. Tetapi, kesimpulan itu ternyata salah! Percikan Api di belakang Stabilizer Lampu indikator meteran masih tetap padam, bahkan hingga tulisan ini dipublikasikan tidak pernah terlihat kembali menyala. Namun, belum ada satu minggu sejak stabilizer dipasang, saya tidak sengaja melihat ada cahaya kecil berkedip cepat di bagian belakang stabilizer. Ternyata, cahaya itu berasal dari percikan api. Saat diperhatikan lebih dekat, terlihat percikan api menyala berkesinambungan di bagian panel kawat Netral stabilizer. Tidak ada arus listrik Positif di situ saat saya memeriksanya menggunakan tespen. Lalu, darimana asal percikan api tersebut? Mungkinkah kawat Netral dari meteran membawa arus Positif ke dalam rumah dan menghasilkan percikan api? Jika memang begitu, mengapa tidak ada respon arus Positif saat tespen di tempelkan? Saya pun menemui jalan buntu dengan pertanyaan yang sama terus-menerus berputar di kepala, “Bagaimana bisa terjadi arus kawat Netral dari meteran menghasilkan percikan api?” Beberapa logika sambungan kabel saya coba pasang untuk mengetahui letak permasalahan secara lebih baik. Terakhir, saya mencoba dengan memutuskan sambungan ke jaringan kabel dalam rumah, sehingga arus listrik hanya ada di jalur kabel antara meteran dan stabilizer saja. Dan saat listrik kembali dinyalakan… panel kawat Netral di belakang stabilizer kembali mengeluarkan percikan api seperti sebelumnya. Mungkinkah stabilizer-nya yang rusak? Jika memang rusak, berarti lampu di dalam rumah pun seharusnya akan padam karena tidak ada arus Netral yang keluar dari stabilizer. Tapi, itu tidak terjadi. Semua lampu dan perangkat elektronik yang ada dalam rumah, bisa berfungsi normal. Bahkan lebih baik dibanding tanpa menggunakan stabilizer tanpa kabel 3000VA. Satu-satunya pedoman yang saya miliki adalah setiap percikan api yang berasal dari listrik merupakan efek dari korsleting. Dan, cara mengamankan efek korsleting seperti itu adalah hanya dengan cara menyalurkan ke grounding melalui kawat Arde. Mungkinkah telah terjadi korsleting dan masih berlangsung di dalam stabilizer itu sendiri? Bisa jadi juga. Lalu, saya coba dengan menyematkan sepotong kawat tembaga untuk dijadikan sebagai Arde, pada panel bertanda grounding yang ada di stabilizer dan menyambung ke grounding paku di dinding. Dan… woooalaaa…, tidak ada lagi percikan api setelah listrik kembali dinyalakan. Jadi… arus listrik yang didistribusikan PLN membawa efek korsleting di kawat Netral nya? Foto Susunan kabel Input, Output dan kawat Arde pada STABILIZER Tanpa Kabel dengan memanfaat PAKU di dinding sebagai Grounding Foto Susunan pemasangan kawat FASA, NETRAL dan ARDE di bagian belakang STABILIZER Tanpa Kabel Listrik saya padamkan lagi untuk menyambung output stabilizer dengan jaringan kabel listrik dalam rumah, lalu kembali dinyalakan setelah selesai. Tidak nampak percikan api di belakang stabilizer. Hingga keesokan hari, semuanya berjalan normal sama seperti sebelum penggantian meteran lama dikerjakan. Pentingnya Kawat Arde dan Grounding di rumah Lagi-lagi saya kembali teringat pernyataan petugas PLN yang dulu mengganti meteran. Ternyata memang benar bahwa kawat Netral saat ini memiliki dwifungsi sebagai kawat Arde. Seperti yang saya alami dan ceritakan di atas, ada kelebihan arus listrik yang seharusnya disalurkan melalui kawat Arde, namun kini diakomodir menggunakan kawat Netral. Tetapi kelihatannya…, hal itu hanya berlaku untuk kepentingan jaringan kabel listrik di internal PLN saja, yaitu sebatas kepentingan agar meteran di rumah pelanggan dapat berfungsi sesuai kriteria yang diinginkan PLN. Mengenai kondisi dan kualitas listrik setelah keluar dari meteran adalah bukan menjadi tanggung jawab PLN lagi. Kalau aturan mainnya sudah seperti itu, berarti, jaringan kabel di rumah yang kita pelanggan tempati, harus benar-benar memiliki daya tahan tinggi bullet-proof terhadap segala kondisi listrik yang dipasok dari PLN. Kita tetap harus menggunakan kabel 3 tiga kawat Positif, Netral dan Arde. Dengan demikian, efek korsleting yang dihasilkan dari jaringan kabel dalam rumah, bisa disalurkan melalui kawat Arde ke grounding. Termasuk juga, untuk mengakomodir efek korsleting bawaan listrik dari luar rumah yang terdapat pada kawat Netral kabel keluaran meteran PLN. Jaringan kabel dalam rumah tanpa disertai kawat Arde terhubung ke grounding, kemungkinan besar membuat perangkat listrik atau membuat perangkat elektronik yang tersambung dengan kawat Netral akan hangus dan rusak. Terlepas dari benar-tidaknya pernyataan kawat Netral bisa difungsikan sama seperti kawat Arde yang sebelumnya ikut dipasang secara terpisah pada meteran, saya mendapatkan beberapa kepastian dari pengalaman kejadian di atas Kemampuan stabilizer siap pakai tidak selalu bisa sepenuhnya diharapkan dapat mengatasi dinamika naik-turun-naiknya voltase. Jangan pernah untuk tidak menyertakan kawat Arde yang terhubung dengan grounding saat memasang jaringan kabel dalam rumah. Jika stabilizer terpasang di jalur kabel antara meteran dengan boks MCB, pastikan kawat Arde juga terpasang di stabilizer sesuai pada tempatnya. Meskipun bukan tindakan yang dianjurkan, model grounding paku di dinding bisa diandalkan untuk meredam efek korsleting secara cepat, mudah dan murah. Nyala lampu indikator di meteran belum tentu identik dengan masalah pada jaringan kabel listrik dalam rumah. Stabilizer tanpa kabel 3000VA yang saya pasang di jalur kabel antara meteran dengan boks MCB memperlihatkan keadaan yang sebenarnya. Jadi… Mengapa saya tidak menghubungi pihak PLN untuk menyelesaikan kasus di atas? Sejak pertama mempelajari listrik secara otodidak, hingga saat artikel ini dipublikasikan, saya masih mendapatkan kesulitan untuk bisa mencerna pemikiran cara instalasi kabel listrik yang hanya menggunakan dua kawat Positif dan Netral saja di dalam rumah. Saya juga tidak tahu apakah kebijakan memotong kawat Arde untuk tidak melalui meteran adalah memang resmi berasal dari PLN atau hanya akal-akalan oknum petugas PLN. Sebagai hanya seorang praktisi tanpa pendidikan formal apapun tentang listrik, saya tidak memiliki dasar yang kuat untuk beragumentasi mengenai teknik listrik. Oleh sebab itu, saya memilih untuk diam dan mencoba menyelesaikan sendiri masalah yang ada. Mungkin, memasang stabilizer tanpa kabel 3000VA disertai model grounding paku di dinding, dengan tujuan memadamkan lampu indikator di meteran dan mencegah timbulnya percikan api keluar dari kawat Netral sebagaimana saya alami, bukan merupakan solusi terbaik. Atau, mungkin solusi yang salah dan membahayakan. Namun, saya lebih memilih mengerjakan seperti itu agar stabilizer tanpa kabel 3000VA yang telah terpasang saat ini bisa berfungsi dengan benar tanpa disertai percikan api. Gambar Skema Pemasangan Kawat pada STABILIZER Tanpa Kabel dengan memanfaatkan PAKU di dinding sebagai Grounding Setidaknya, pengalaman mengatasi masalah dan efek yang mungkin timbul terkait nyala lampu indikator di meteran, dapat menjadi referensi bagi anda dan teman-teman untuk bisa keluar dari kebuntuan permasalahan yang sama. Ada satu hal yang masih mengganggu di benak saya Saat percikan api menyala di belakang stabilizer, lampu indikator meteran dalam kondisi tetap padam. Bisa diartikan, masalah yang terjadi setelah jalur kabel output meteran, tidak membuat lampu indikator meteran menyala. Lalu…, nyala lampu indikator meteran mengidentifikasikan adanya masalah pada listrik di bagian mana? Kondisi listrik PLN yang masuk ke meteran input ataukah kondisi listrik di jaringan kabel dalam rumah output? Jadi, jika lampu indikator meteran PLN di rumah anda terlihat menyala, lakukan pembenahan / pemeriksaan jaringan kabel listrik di rumah secara menyeluruh. Gunakan kabel isi tiga kawat untuk semua jalur kabel yang ujungnya dipasangi stopkontak. Buat Grounding jika belum ada, dan terakhir, pasang stabilizer di jalur kabel output line-out meteran PLN. Seandainya setelah semua itu dikerjakan dan ternyata lampu indikator meteran masih tetap menyala, maka ABAIKAN SAJA! Karena, tidak ada lagi yang bisa dikerjakan untuk membuatnya menjadi padam. Hanya waktu yang bisa dan akan memberikan jawaban dari penyebab sebenarnya mengapa lampu indikator tersebut masih menyala. *** Update 16 Maret 2017 *** Lampu Indikator akan menyala selama pasokan listrik PLN dibawah 220 Volt. Hal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebenaran instalasi jaringan kabel listrik yang terpasang di rumah. Jadi, betapapun “sempurna” instalasi kabel listrik yang terpasang di rumah kita saat ini, tidak akan memberikan jaminan lampu indikator di meteran pasti padam. *** End Update 16 Maret 2017 *** Semoga bermanfaat! 🙂
0% found this document useful 0 votes223 views5 pagesOriginal TitleRANGKUMAN PENGARUH GROUNDING TERHADAP KUALITAS DAYA © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes223 views5 pagesRangkuman Pengaruh Grounding Terhadap Kualitas Daya ListrikOriginal TitleRANGKUMAN PENGARUH GROUNDING TERHADAP KUALITAS DAYA PENGARUH GROUNDING TERHADAP KUALITAS DAYA LISTRIK Kualitas daya listrik adalah hubungan daya listrik yang berbentuk penyimpangan tegangan, arus atau frekuensi yang menimbulkan kesalahan operasi pada peralatan-peralatan listrik. Dalam usaha untuk menyediakan kualitas daya listrik yang baik kepada konsumen tentunya ada hal-hal yang menghambat atau dapat menurunkan nilai dari kualitas daya ditinjau dari sisi tegangan, arus, atau frekuensi. Permasalahan kualitas daya, yaitu Pentanahan grounding, distorsi harmonik, transient tegangan, noise. Tetapi yang terpenting adalah masalah pada pentanahan atau grounding dengan potensi dampak yang lebih besar apabila sampai terjadi. Dampak grounding pada kualitas daya, selain mencegah peristiwa bencana seperti kebakaran dan cedera besar, grounding yang benar mencegah masalah kualitas daya yang tidak baik sehingga menyebabkan sistem, rangkaian listrik, dan peralatan beroperasi secara tidak benar. Hubungan antara pentanahan terhadap kualitas daya Perangkat elektronik yang sudah tidak terhitung jumlahnya merupakan bagian yang penting dalam kehidupan sehari-hari baik di bidang rumah tangga maupun industri. Banyak macam cara untuk mencegah masalah yang timbul akibat kualitas daya yang tidak baik. Salah satunya, memasang sistem pentanahan grounding yang tepat dengan didukung pekerjaan pengujian pentanahan secara teratur dapat menghasilkan kualitas daya yang konsisten atau kontinyu. Pentanahan grounding merupakan hubungan konduktif resistansi rendah antara rangkaian listrik, peralatan, dan tanah. Berdampak pada stabilitas tegangan referensi dalam sistem tenaga. Kabel dan pentanahan yang tepat diperlukan dalam sistem listrik untuk operasi peralatan yang aman. Sistem pentanahan berperan untuk memmpertahankan sistem kelistrikan yang didukungnya, bahkan setelah mengalami gangguan arus yang besar. Tes tahanan tanah dan selektivitas tanah harus diselesaikan pada pemasangan awal untuk memverifikasi bahwa persyaratan hambatan minimum dipenuhi , antara lain  Desain konstruksi atau modifikasi bangunan  Sistem pentanahan dipasang sebelum daya dimulai Rahmat Rifqi Wibisono 07111740000139  Konstruksi bangunan selesai dan bangunan beroperasi penuh  Sekali setahun untuk pemeliharaan preventif Referensi tanah yang tepat diperlukan untuk membuat sistem turunan terpisah SDS, sistem listrik yang memasok daya listrik yang berasal atau diambil dari generator, sistem fotovoltaik, baterai penyimpanan, transformator atau turbin angin. Sebagian besar SDS diproduksi oleh sisi sekunder transformator distribusi daya. Bersamaan dengan uji pentanahan, uji resistivitas tanah diperlukan untuk menentukan tempat optimal untuk pemasangan, sesuai dengan kode dan standar industri. Idealnya, tahanan tanah harus nol ohm. National Fire Protection Association NFPA dan Institute of Electrical and Electronics Engineers IEEE merekomendasikan nilai resistensi tanah sebesar 5,0 ohm atau kurang. Banyak situs militer dan komunikasi kritis menetapkan secara signifikan di bawah 1 Ohm. National Electrical Code NEC tidak mengizinkan koneksi netral-ke-ground yang membuat loop tanah karena dapat menyebabkan kejutan listrik dan masalah kualitas daya. Loop tanah adalah rangkaian listrik yang memiliki lebih dari satu titik arde yang terhubung ke arde, dengan beda potensial tegangan antara titik arde yang cukup tinggi untuk menghasilkan arus sirkulasi dalam sistem arde. Jenis-jenis grounding pentanahan Sambungan pentanahan untuk peralatan sensitif sangat sesuai ketika memberikan aliran impedansi rendah menuju bumi, untuk pita frekuensi yang berkisar dari operasi nilai sampai nilai perturbasi. Pada dasarnya tiga jenis dasar pasak, cincin, dan jala. a. Batang Keefektifannya tergantung pada material, bujur atau kedalaman, bentuk, angka dan resistivitas bumi. Biasanya dibentuk oleh silinder batang tembaga atau baja, dipulihkan dengan sedikitnya 250 μm tembaga, terkubur dalam dua atau tiga meter lantai. Batang koneksi tanah - bumi bisa dipelajari sebagai dibentuk oleh serangkaian silinder konsentris. Tahanan bumi tergantung pada suhu tanah, kelembaban dan komposisi kimia. b. Cincin Terdiri atas konduktor yang memiliki luas penampang antara 35 dan 70 mm 2 yang mengelilingi konstruksi dan saling berhubungan dengan batang tanah yang terkubur, dan juga ikatan dengan besi struktur bangunan, dan juga bisa dihubungkan ke semua pipa logam. Dimakamkan di kedalaman antara 60 cm dan satu meter, sehingga berada di bawah level umum pembekuan tanah. c. Jala Konduktor tembaga dengan grid dari urutan 40 hingga 60 cm, tergantung pada dimensi konstruksi, digunakan sebagai gabungan koneksi bumi untuk daya dan sinyal, karena untuk telekomunikasi karakteristik konstruktif, mudah berdifusi di bumi arus 50 atau 60 Hz, sangat mengurangi kepadatan medan magnet. Untuk frekuensi tinggi arus, peralatan konduktor interkoneksi jala pendek dan dengan demikian induktansi rendah, menghindari bahwa konduktor dapat beresonansi atau menjadi radio antena emisi suara frekuensi radio. Grounding jala dibangun di dalam area kantor atau di laboratorium atau di tempat yang sangat "berisik" bagian industri. Jika semua bagian logam dekat ke jala bumi tersambung dengan kuat ke jala, yaitu koneksi dalam denominasi “multi earth koneksi".
Cara kedua yang saya lakukan untuk menurunkan biaya listrik, secara legal, setelah melakukan cara pertama Memasang Saklar Anti Standby pada Televisi, adalah 2. Memasang Grounding Secara Tepat Pembumian Pada dasarnya pembumian atau grounding dilakukan untuk mencegah bahaya sentuhan tidak langsung atau bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang tidak bertegangan menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi. Namun apabila pemasangan grounding kurang tepat maka akan mengakibatkan naiknya biaya pemakaian listrik. Pembumian Sistem TN Menurut Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 PUIL 2000 nomor pembumian listrik tiga jenis, yaitu 1. Sistem TT 2. Sistem IT 3. Sistem TN Ketiga sistem pembumian di atas, telah dibahas sebelumnya, silahkan baca Sistem Pembumian Listrik. Umumnya, pembumian yang banyak digunakan adalah sistem TN. Pembumian Sistem TN mempunyai satu titik yang dibumikan langsung. Biasanya titik tersebut adalah penghantar Netral. Gangguan Netral Sistem PLN Idealnya titik Netral adalah nol. Bila kita melakukan pengukuran pada titik Netral dengan Line, maka akan kita peroleh nilai tegangan 220 VAC untuk jaringan sistem PLN single bila terjadi gangguan pada sistem PLN dan gangguan tersebut adalah gangguan Netral, dalam arti Netralnya sudah tidak nol lagi, maka akan ada tegangan pada titik Netral tersebut. Netral - Ground Tergabung di MCB Box atau Setelah Meteran Penghantar Netral dan Ground tergabung di MCB Box atau setelah keluar metaran. Bila timbul arus gangguan netral sistem PLN, arus tersebut akan mengalir ke meteran dan jaringan listrik di rumah. Arus gangguan yang mengalir ke meteran akan terbaca sebagai beban listrik. Ini menjadi sistem pemasangan grounding yang kurang tepat, karena akan mengakibatkan naiknya biaya pemakaian listrik. Netral - Ground Tergabung Sebelum Masuk Meteran Penghantar Netral dan Ground tergabung sebelum masuk metaran. Bila timbul arus gangguan netral sistem PLN, arus tersebut akan langsung dibumikan, tidak akan mengalir ke meteran dan jaringan listrik di rumah. Ini merupakan sistem pemasangan grounding yang tepat. Artikel Terkait Pilih Label elektronika dasar listrik aplikasi rangkaian perhitungan komponen digital bilangan kompleks Baca lagi
November 1, 2017 Elektro, Listrik Dear sahabat BT, senang bisa jumpa lagi hari ini Om BT akan sharing mengenal istilah grounding atau sering disebut sebagai sistem pentanahan. Apa itu sistem pentanahan grounding dan bagaimana penjelasannya? Silahkan disimak penjelasan berikut. Saat kita bekerja atau bersantai dengan permainan game favorit di rumah dengan menggunakan komputer, biasanya tiba-tiba kita merasakan adanya sengatan listrik saat tangan atau anggota tubuh kita menyentuh bagian metal dari peralatan komputer kita. Kenapa bisa terjadi? Nah itu terjadi karena fungsi sistem pentanahan grounding pada instalasi listrik anda tidak berfungsi dengan baik, atau bisa jadi tidak ada instalasi yang dimaksud. Baca Juga Mengenal MEGGER MEGA OHM METER, Alat Ukur Tahanan Isolasi Instalasi listrik yang baik haruslah memperhatikan masalah listrik statis yang terdapat pada peralatan elektonik, untuk itu perlu adanya sistem pentanahan grounding yang baik pada instalasi listrik rumah maupun perkantoran. Apa yang dimaksud dengan Grounding sistem pentanahan ? Sistem pentanahan grounding adalah suatu sistem pengamanan terhadap perangkat-perangkat yang mempergunakan listrik sebagai sumber tenaga, dari lonjakan listrik, petir dll. Instalasi kabel ke tiap catuan harus 3 kabel Phasa tegangan ACNetral Ground Kabel yang ada di lokasi meteran PLN Kenapa perlu instalasi listrik yang baik ? Karena bila salah pemasangan sistem pentanahan grounding & netral dapat menyebabkan Kemungkinan fatal terhadap jiwa manusia apabila terjadi hubungan singkat pada salah satu peralatanMasuknya Noice kedalam sistem yang berakibat rusaknya peralatanMasuknya Noice ke dalam sistem yang berakibat terganggunya aliran data yang dapat menyebabkan error di terminal server ataupun printer. Macam-macam Type Grounding sistem pentanahan Ada beberapa macam cara pembuatan sistem pentanahan grounding pada instalasi listrik, diantaranya Ground Rod, tipe grounding yang terbuat dari kuningan untuk ground yang terhubung ke tanah dan dilengkapi dengan bak control untuk pengukuranElektroda Pita, system grounding yang menggunakan dasar plat tembaga sebagai elektroda pita yang dihubungkan dengan kabel dengan bak control Elektroda Plat, system grounding yang menggunakan plat tembaga sebagai elektroda platnya yang dihubungkan dengan kabel ke bak control Demikian penjelasan tentang mengenal sistem pentanahan grounding pada instalasi listrik. Semoga bermanfaat!. [ Check Also Pengertian Tespen dan Penjelasannya Dear sahabat BT senang bisa jumpa lagi. Hari ini Om BT akan sharing info tentang …
pengaruh grounding pada meteran listrik